
Hubungan Diplomatik Indonesia-Israel, Akankah ?
Jelang memasuki pergantian tahun 2022, pemberitaan mengenai kemungkinan dibukanya hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Israel kembali mencuat. Hal itu terjadi setelah kunjungan yang dilakukan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken ke Jakarta pada penghujung tahun lalu, tepatnya pada 14 Desember. Menurut laporan salah satu media di AS Axios, pemerintahan Biden berupaya menghidupkan kembali “Abraham Accords” warisan era Trump. “Abraham Accords” merupakan suatu kesepakatan untuk menarik negara-negara muslim agar mau mengakui dan menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang diperantarai oleh Amerika Serikat. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di duina tentu menjadi target utama untuk dibawa ke dalam “Abraham Accords”, bahkan sejak era pemerintahan Trump. Namun upaya tersebut terhenti seiring dengan berakhirnya masa jabatan Trump.
Kementerian Luar Negeri RI menanggapi hal ini melalui juru bicaranya Teuku Faizasyah, yang mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS dalam kunjungan ke Jakarta sempat melontarkan isu ini kepada Menlu RI yaitu Retno Marsudi. Namun Menteri Luar Negeri RI, menyatakan bahwa untuk mengakui dan menormalisasi hubungan antara Indonesia dengan Israel masih sulit terwujud. Hal tersebut berkaitan (Sorongan, 2022) dengan posisi Indonesia yang tetap pada komitmennya untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Indonesia juga akan tetap pada posisinya yaitu terus berjuang bersama rakyat palestina untuk mendapatkan kemerdekaan dan keadilan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI ini juga menambahkan bahwahubungan Indonesia-Israel dalam cakupan non-diplomatik telah terjalin dalam hubungan antar masyarakat. Contohnya adalah banyaknya WNI yang melakukan kunjungan ke Israel dan Palestina dalam hal ibadah dan kunjungan keagamaan. Meskipun secara resmi Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik, hubungan bisnis antar kedua negara masih mungkin untuk terjadi. Hubungan bisnis tersebut tentunya tidak mengatasnamakan pemerintah RI atau lebih kepada hubungan bisnis “people-to-people”.
Di lain pihak, anggota kehormatan Whasington Institute for Near East Polic yakni Dennis Ross menyatakan bahwa jika Indonesia melakukan normalisasi seperti membuka kantor perdagangan komersial dengan Israel tentu akan menjadi masalah besar. Namun ia juga tidak memungkiri bahwa akan ada janji manis yang diberikan AS kepada RI. Seperti misalnya investasi sektor swasta dan publik yang signifikan.
Posisi Indonesia yang menempati urutan teratas sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, jelas menjadi kendala terbesar untuk terealisasinya isu ini. Dengan berpenduduk mayoritas muslim terbesar, terealisasinya isu ini akan menimbulkan gejolak politik yang menimbulkan ancaman serius bagi stabilitas politik di Indonesia.
Penulis: Al Farid Ridhofi
References
Arbar, T. F. (2022, January 1). Heboh RI Segera Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel. Retrieved from cnbcindonesia.com: https://www.cnbcindonesia.com/news/20211229113025-4-302908/heboh-ri-segera-buka-hubungan-diplomatik-dengan-israel
Sorongan, T. P. (2022, January 20). Israel Mau Normalisasi Hubungan dengan RI? Ini Kata Kemenlu. Retrieved from cnbcindonesia.com: https://www.cnbcindonesia.com/news/20220120142314-4-309047/israel-mau-normalisasi-hubungan-dengan-ri-ini-kata-kemenlu?_gl=1*jozazn*_ga*VVB5UmlaaFJ6UXVLNWZNMlZ1UXRzUkJybklkMUZ1NWtWVEtHWDJadzRRZXlGTTV3Rm1mSVU5RERsRUl3ampCSA
Wijaya, P. (2022, February 4). Pasang-Surut Hubungan di Balik Layar Indonesia-Israel. Retrieved from merdeka.com: https://www.merdeka.com/dunia/pasang-surut-hubungan-di-balik-layar-indonesia-israel.html